GWAAAH!!!
Sampe lagi di bandung (dammit!)
Setelah hampir satu bulan lamanya liburan luntang-lantung ngga jelas, saya kembali ke bandung. Anda (khususnya yang masih mahasiswa-semangat-siswa-SMP-SMA ato masih pelajar sekolah menengah tulen ato siapapun lah..)pasti mengerti betul perasaan yang saya rasakan sekarang. Hmmm...yup, rasa malas untuk kembali beraktivitas setelah sebulan penuh beraktivitas ngga jelas...
Tapi rasa malas harus dibuang jauh2. Bukan begitu??
Dibalik semua itu, gwe panik nih! ATM BNI gwe belom didebet oleh pihak ITB. Dan dalam sistem pembayaran uang semester di ITB yang sangat canggih dan mutakhir ini(lebay), kalo ATM BNI lo belom didebet sejumlah SPP/semester, maka lo belom bisa melakukan pendaftaran ulang. Dan gwe termasuk ke dalam 1 dari 1 juta-lima-ratus-lima-puluh tujuh-ribu-dua-ratus-enam-puluh-tiga orang mahasiswa ITB yang ATM-nya belom didebet. HAAAAh....
ITB, debetlah ATMku, gwe ikhlas kok...
Wednesday, January 30, 2008
Thursday, January 17, 2008
Pertama Terjadi Sejak 62 Tahun Merdeka
Ada kutipan artikel menarik dari harian Media Indonesia edisi Selasa, 15 Januari 2008. Enjoy!
'NEGARA ini memiliki daftar masalah yang sangat panjang. Yang satu belum selesai, yang lain muncul. Masalah negara seperti beranak cucu di Republik ini.
Yang lebih menyedihkan ialah timbulnya masalah baru yang sifatnya elementer. Masalah baru, karena sejak zaman penjajahan tidak pernah menjadi masalah. Eh, sekarang, setelah lebih 62 tahun merdeka, ia menjadi persoalan negara.
Masalah elementer karena menyangkut lauk pokok rakyat banyak. Namanya tempe. Bahkan, inilah lauk yang semakin diakui khasiat dan gizinya. Ia merupakan alternatif yang canggih dan murah untuk menghindari kolesterol jahat. Sebagai gambaran, baru sekitar Perang Vietnam, nilai gizi yang tinggi itu disadari oleh orang Amerika. Sejak itu sejumlah buku ditulis di Amerika mengenai keunggulan tempe.
Makhluk yang bernama tempe itu, beberapa hari ini harganya meroket, sehingga rakyat protes. Kiranya inilah pertama kali terjadi dalam sejarah negara ini bahwa ribuan rakyat di sekitar megapolitan (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi) berdemonstrasi ke Istana karena tempe.
Tempe menjadi barang langka. Penyebabnya karena kedelai menghilang dari pasar. Kalaupun ada di pasar, harganya selangit. Yaitu, naik 150% selama enam bulan terakhir.
Karena bahan baku untuk membuat tempe langka, tempe pun menghilang dari pasar. Kalaupun diproduksi, harganya pun selangit, seiring selangitnya harga kedelai. Karena harganya mahal, tempe tidak laku. Pedagang yang masih berani jualan tempe merugi.
Tempe mendadak sontak menjadi masalah strategis. Ternyata, negara bukan saja belum mampu menyelesaikan urusan pangan yang pokok, yaitu beras, tetapi juga subpangan, yaitu tempe yang merupakan lauk murah meriah dan bergizi tinggi.
Masalah beras dan tempe menunjukkan Republik Indonesia adalah negara agraris yang memble. Memble, kata kamus, yaitu terkelepai ke bawah; bodoh, dungu.
Mengapa? Jawabnya, tegas, karena negara ini tidak memiliki politik pertanian yang jelas. Bahkan, lebih tajam lagi, tidak punya arah ke mana negara hendak dibawa sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangan yang pokok.
Buktinya, gampang dan banyak. Negara membiarkan dan merestui sawah yang terbaik untuk padi digusur oleh realestat dan kawasan industri. Negara lebih memilih mengekspor gas, dengan mengorbankan pabrik pupuk di dalam negeri kelenger dan mampus. Negara tidak memberi insentif yang menggairahkan petani untuk menanam padi. Padahal, sebaliknya, dengan mengimpor beras, negara ini justru menghidupi petani negara lain.
Kelangkaan kedelai adalah juga akibat politik pertanian yang tidak peduli pada kemampuan menghasilkan kedelai dalam negeri. Dari tahun ke tahun yang terjadi ialah produksi kacang kedelai lokal menurun dan semakin besar tergantung kepada impor.
Tempe telah naik panggung politik menjadi masalah negara yang serius. Serius karena menunjukkan kedunguan negara. Dungu, tidak sanggup mengurus perkara elementer, yaitu lauk rakyat sehari-hari.
Pelajaran yang dapat dipetik ialah tak perlu muluk-muluk amat mengimpikan presiden yang ideal. Kalau ada yang kampanye nyanyian surga pada Pemilu 2009--misalnya memberantas korupsi, menegakkan hukum tanpa pandang bulu--tutup saja telinga kanan dan kiri. Sebab, itu cuma omdo, omong doang.
Baru buka telinga, kalau ada yang janjinya sederhana, mampu menyediakan beras dan tempe dengan harga murah. Sebab, di belakang janji beras dan tempe itu, sesungguhnya bersemayam politik pertanian dan strategi pemenuhan pangan yang cemerlang.'
Menyedihkan banget ya?
Bagi gwe pribadi, khususnya setelah gwe jadi mahasiswa yang harus ngekos dan hidup mandiri, tempe menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan(cailah) dari kehidupan gwe sehari-hari, apalagi kalo udah akhir bulan, wah, akrab banget dah gwe ama tuh makhluk.
Ya, tempe menjadi menu favorit gwe kalo udah akhir bulan atau kalo gwe lagi boke. Selain karena harganya murah, tempe itu enak loh, bergizi lagi. Berkat tempe, gwe bisa makan kenyang hanya dengan 3500 Rupiah saja.
Sampe-sampe mbak2 wartegnya hapal ama menu gwe yang satu ini. Kalo udah masuk tanggal 20an, dan gwe mau makan:
Mbak2 warteg : 'Makan apa dek???'
Gwe(sambil senyum2 kecut): 'Menu akhir bulan mbak...'
Ya,itulah kata kuncinya. Si mbak2 warteg akan dengan segera dan dengan cekatan ngambil semua lauk yang termasuk dalam Menu Akhir Bulan gwe ini. Sayur singkong, dan dua potong tempe. Hmmmmmm...yummy....
Emang keliatannya masalah sepele, tapi eitttssss...tunggu dulu. Nyawa gwe juga bisa bergantung pada si tempe ini. Atau malah nyawa orang yang senasib ama gwe(hobi makan tempe;red). Kalo harga kacang kedele naik, bisa2 ntar semuanya ikut naik. Harga kecap naik, harga tahu naik, SPP naik, harga TV naik, BBM naik, semua naik...
Ngga enak kan begini terus?
Jadi tolong, kepada siapa saja, TURUNKAN HARGA KACANG KEDELAI!!!!
'NEGARA ini memiliki daftar masalah yang sangat panjang. Yang satu belum selesai, yang lain muncul. Masalah negara seperti beranak cucu di Republik ini.
Yang lebih menyedihkan ialah timbulnya masalah baru yang sifatnya elementer. Masalah baru, karena sejak zaman penjajahan tidak pernah menjadi masalah. Eh, sekarang, setelah lebih 62 tahun merdeka, ia menjadi persoalan negara.
Masalah elementer karena menyangkut lauk pokok rakyat banyak. Namanya tempe. Bahkan, inilah lauk yang semakin diakui khasiat dan gizinya. Ia merupakan alternatif yang canggih dan murah untuk menghindari kolesterol jahat. Sebagai gambaran, baru sekitar Perang Vietnam, nilai gizi yang tinggi itu disadari oleh orang Amerika. Sejak itu sejumlah buku ditulis di Amerika mengenai keunggulan tempe.
Makhluk yang bernama tempe itu, beberapa hari ini harganya meroket, sehingga rakyat protes. Kiranya inilah pertama kali terjadi dalam sejarah negara ini bahwa ribuan rakyat di sekitar megapolitan (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi) berdemonstrasi ke Istana karena tempe.
Tempe menjadi barang langka. Penyebabnya karena kedelai menghilang dari pasar. Kalaupun ada di pasar, harganya selangit. Yaitu, naik 150% selama enam bulan terakhir.
Karena bahan baku untuk membuat tempe langka, tempe pun menghilang dari pasar. Kalaupun diproduksi, harganya pun selangit, seiring selangitnya harga kedelai. Karena harganya mahal, tempe tidak laku. Pedagang yang masih berani jualan tempe merugi.
Tempe mendadak sontak menjadi masalah strategis. Ternyata, negara bukan saja belum mampu menyelesaikan urusan pangan yang pokok, yaitu beras, tetapi juga subpangan, yaitu tempe yang merupakan lauk murah meriah dan bergizi tinggi.
Masalah beras dan tempe menunjukkan Republik Indonesia adalah negara agraris yang memble. Memble, kata kamus, yaitu terkelepai ke bawah; bodoh, dungu.
Mengapa? Jawabnya, tegas, karena negara ini tidak memiliki politik pertanian yang jelas. Bahkan, lebih tajam lagi, tidak punya arah ke mana negara hendak dibawa sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangan yang pokok.
Buktinya, gampang dan banyak. Negara membiarkan dan merestui sawah yang terbaik untuk padi digusur oleh realestat dan kawasan industri. Negara lebih memilih mengekspor gas, dengan mengorbankan pabrik pupuk di dalam negeri kelenger dan mampus. Negara tidak memberi insentif yang menggairahkan petani untuk menanam padi. Padahal, sebaliknya, dengan mengimpor beras, negara ini justru menghidupi petani negara lain.
Kelangkaan kedelai adalah juga akibat politik pertanian yang tidak peduli pada kemampuan menghasilkan kedelai dalam negeri. Dari tahun ke tahun yang terjadi ialah produksi kacang kedelai lokal menurun dan semakin besar tergantung kepada impor.
Tempe telah naik panggung politik menjadi masalah negara yang serius. Serius karena menunjukkan kedunguan negara. Dungu, tidak sanggup mengurus perkara elementer, yaitu lauk rakyat sehari-hari.
Pelajaran yang dapat dipetik ialah tak perlu muluk-muluk amat mengimpikan presiden yang ideal. Kalau ada yang kampanye nyanyian surga pada Pemilu 2009--misalnya memberantas korupsi, menegakkan hukum tanpa pandang bulu--tutup saja telinga kanan dan kiri. Sebab, itu cuma omdo, omong doang.
Baru buka telinga, kalau ada yang janjinya sederhana, mampu menyediakan beras dan tempe dengan harga murah. Sebab, di belakang janji beras dan tempe itu, sesungguhnya bersemayam politik pertanian dan strategi pemenuhan pangan yang cemerlang.'
Menyedihkan banget ya?
Bagi gwe pribadi, khususnya setelah gwe jadi mahasiswa yang harus ngekos dan hidup mandiri, tempe menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan(cailah) dari kehidupan gwe sehari-hari, apalagi kalo udah akhir bulan, wah, akrab banget dah gwe ama tuh makhluk.
Ya, tempe menjadi menu favorit gwe kalo udah akhir bulan atau kalo gwe lagi boke. Selain karena harganya murah, tempe itu enak loh, bergizi lagi. Berkat tempe, gwe bisa makan kenyang hanya dengan 3500 Rupiah saja.
Sampe-sampe mbak2 wartegnya hapal ama menu gwe yang satu ini. Kalo udah masuk tanggal 20an, dan gwe mau makan:
Mbak2 warteg : 'Makan apa dek???'
Gwe(sambil senyum2 kecut): 'Menu akhir bulan mbak...'
Ya,itulah kata kuncinya. Si mbak2 warteg akan dengan segera dan dengan cekatan ngambil semua lauk yang termasuk dalam Menu Akhir Bulan gwe ini. Sayur singkong, dan dua potong tempe. Hmmmmmm...yummy....
Emang keliatannya masalah sepele, tapi eitttssss...tunggu dulu. Nyawa gwe juga bisa bergantung pada si tempe ini. Atau malah nyawa orang yang senasib ama gwe(hobi makan tempe;red). Kalo harga kacang kedele naik, bisa2 ntar semuanya ikut naik. Harga kecap naik, harga tahu naik, SPP naik, harga TV naik, BBM naik, semua naik...
Ngga enak kan begini terus?
Jadi tolong, kepada siapa saja, TURUNKAN HARGA KACANG KEDELAI!!!!
Monday, January 14, 2008
Welehweleh....
semakin susah ya hidup ini..semakin ngejelimet! Semakin banyak masalah baru yang muncul, sementara masalah yang lain belum selesai (iya, gwe mo sok bijak dikit kali ini...)
Kaya yang gwe liat di TV tadi pagi. Ternyata bukan hanya harga minyak tanah yang naik, tapi ternyata harga kedelai juga naik, dan hal ini otomatis mempengaruhi produksi tahu dan tempe. Banyak pembuat tahu dan tempe yang terpaksa berhenti bikin tahu dan tempe karena mahalnya harga kedelai. Padahal mereka udah cukup lama menggeluti bisnis nahu(ngebikin tahu) dan nempe(ngebikin tempe) ini. Bahkan mereka berencana buat unjuk rasa ke mana gitu hari ini.
Cukup memprihatinkan....
But guys, jangan cuma bisa prihatin doang. Apa yang bisa kita lakukan?
Mulailah dari diri kita sendiri. Matikan lampu dan semua alat elektronik yang tidak terpakai, dan mulailah menggunakan barang2 yang dapat didaur ulang....
.........
well ehm...
Dan sekarang mantan orang nomor satu di negeri ini lagi sakit parah. Jadi sorotan media, dan selalu jadi headline news di stasiun TV. Ngga heran, karena masih banyak masalah yang bersangkutan dengan si Eyang ini yang belom selesai. Mulai dari A sampe Z...ahhh, entahlah...
Tapi gwe kasian juga loh sama si Eyang itu. Seharusnya orang seumuran dia udah tinggal nikmatin masa tuanya. Duduk2 di teras belakang rumah sore2 sambil menikmati secangkir teh hangat, sambil memperhatikan cucu2nya berlari2 riang kesana kemari..*(waduhwaduh) Tapi dia malah sibuk bolak balik masuk rumah sakit plus dikejar2 ama KPK atau apalah itu namanya.
Anyway, kenapa gwe yang pusing??
Oalah, gwe ngga pusing mikirin si Eyang kok, gwe cuma pusing mikirin harga kedelai dan minyak tanah yang harganya semakin nanjak.
Ntar pas gwe udah punya anak, harga kedelai ama minyak tanah berapa ya???
Hmmm...
yah, kita cuma bisa berdoa aja supaya Indonesia semakin ke depan semakin baik...
And speaking of holidays...liburan gwe lumayan garing nih, di rumah aja. Kemaren gwe sempet jalan sih ama temen2 gwe ke sekolah, trus lanjut ke PIM. Yah, gitu2 ajalah...
Dan insya ALLAH rabu gwe mo ke banduing ngurusin smester baru.Alrite, c u later...
semakin susah ya hidup ini..semakin ngejelimet! Semakin banyak masalah baru yang muncul, sementara masalah yang lain belum selesai (iya, gwe mo sok bijak dikit kali ini...)
Kaya yang gwe liat di TV tadi pagi. Ternyata bukan hanya harga minyak tanah yang naik, tapi ternyata harga kedelai juga naik, dan hal ini otomatis mempengaruhi produksi tahu dan tempe. Banyak pembuat tahu dan tempe yang terpaksa berhenti bikin tahu dan tempe karena mahalnya harga kedelai. Padahal mereka udah cukup lama menggeluti bisnis nahu(ngebikin tahu) dan nempe(ngebikin tempe) ini. Bahkan mereka berencana buat unjuk rasa ke mana gitu hari ini.
Cukup memprihatinkan....
But guys, jangan cuma bisa prihatin doang. Apa yang bisa kita lakukan?
Mulailah dari diri kita sendiri. Matikan lampu dan semua alat elektronik yang tidak terpakai, dan mulailah menggunakan barang2 yang dapat didaur ulang....
.........
well ehm...
Dan sekarang mantan orang nomor satu di negeri ini lagi sakit parah. Jadi sorotan media, dan selalu jadi headline news di stasiun TV. Ngga heran, karena masih banyak masalah yang bersangkutan dengan si Eyang ini yang belom selesai. Mulai dari A sampe Z...ahhh, entahlah...
Tapi gwe kasian juga loh sama si Eyang itu. Seharusnya orang seumuran dia udah tinggal nikmatin masa tuanya. Duduk2 di teras belakang rumah sore2 sambil menikmati secangkir teh hangat, sambil memperhatikan cucu2nya berlari2 riang kesana kemari..*(waduhwaduh) Tapi dia malah sibuk bolak balik masuk rumah sakit plus dikejar2 ama KPK atau apalah itu namanya.
Anyway, kenapa gwe yang pusing??
Oalah, gwe ngga pusing mikirin si Eyang kok, gwe cuma pusing mikirin harga kedelai dan minyak tanah yang harganya semakin nanjak.
Ntar pas gwe udah punya anak, harga kedelai ama minyak tanah berapa ya???
Hmmm...
yah, kita cuma bisa berdoa aja supaya Indonesia semakin ke depan semakin baik...
And speaking of holidays...liburan gwe lumayan garing nih, di rumah aja. Kemaren gwe sempet jalan sih ama temen2 gwe ke sekolah, trus lanjut ke PIM. Yah, gitu2 ajalah...
Dan insya ALLAH rabu gwe mo ke banduing ngurusin smester baru.Alrite, c u later...
Tuesday, January 8, 2008
Libur T'lah Tiba (Lagi)...
hoohoho!
Libur lagi!
Gwe kira bakal libur lagi sekitar pertengahan Januari, eh taunya awal2 Januari udah libur lagi..YEEEhaa...ampe sekitar awal februari pula...Tapi di sela2 itu ada beberapa urusan administrasi yg harus diberesin..
Bisa diatur belakangan..hehehe...
Sejujurnya gwe ga tau mo nulis apa..udahan aja ya..
daaa neee*
Perkembangan lebih lanjut bakal gwe postingin lagi...alrite
Libur lagi!
Gwe kira bakal libur lagi sekitar pertengahan Januari, eh taunya awal2 Januari udah libur lagi..YEEEhaa...ampe sekitar awal februari pula...Tapi di sela2 itu ada beberapa urusan administrasi yg harus diberesin..
Bisa diatur belakangan..hehehe...
Sejujurnya gwe ga tau mo nulis apa..udahan aja ya..
daaa neee*
Perkembangan lebih lanjut bakal gwe postingin lagi...alrite
Friday, January 4, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)



